Orang Terkaya di Solo

Dua pengusaha papan atas Solo masuk daftar 150 orang terkaya di Indonesia tahun 2012. Mereka adalah H. Muhammad Lukminto, pendiri dan owner Sritex Group dan Djoenaedi Joesoef, pendiri dan owner PT Konimex Solo.

Masuknya nama Lukminto dan Djoenaedi dalam daftar 150 orang terkaya di Indonesia versi majalah ekonomi Globe Asia, sangat membanggakan dunia usaha Kota Bengawan ini.
Lukminto berada di peringkat 40 dengan nilai kekayaan USD 700 juta atau setara dengan Rp 6,5 triliun.

Menurut catatan majalah Globe Asia, HM Lukminto merupakan wajah baru dalam daftar 150 orang-orang terkaya di Indonesia.

Namun, secara mengejutkan nama Lukminto langsung melejit berada di peringkat 40, mengalahkan puluhan wajah lama yang sudah berkali-kali tampil dalam daftar orang terkaya di negeri ini.
‘’Saya hanya bisa bersyukur atas pencapaian ini. Semoga saya dan perusahaan yang saya dirikan bisa memberikan yang terbaik untuk negeri ini, terutama dalam mengurangi angka pengangguran dan angka kemiskinan,’’ kata Lukminto kepada Joglosemar di kompleks Sritex Grup, Jetis Sukoharjo, akhir pekan lalu.

Sementara Djoenaedi berada di peringkat 87 dengan nilai kekayaan USD 267 juta atau setara Rp 2,5 triliun. Tahun 2011 yang lalu, kekayaan Djoenaedi  USD 231 juta atau Rp 2,1 triliun. Ini berarti kekayaan Djoenaedi naik Rp 400 miliar dalam waktu satu tahun.

Peringkat satu sampai 10 orang terkaya di Indonesia ini masih dihiasi wajah-wajah lama. Mereka adalah Eka Tjipta Widjaja (Sinar Mas Group) dengan nilai kekayaan USD 12,5 miliar atau Rp 116 triliun, Robert Hartono dan Michael Hartono (dua bersaudara pemilik Djarum Kudus) USD 11,8 miliar, Anthony Salim (Salim Group) USD 8,5 miliar,  Martua Setorus (kelapa sawit) USD 4,2 miliar, Susilo Wonowidjojo (Gudang Garam) USD 3,5 miliar, Dato Low Tuak Kwong (Bayan Resources) USD 3 miliar,  Sukanto Tanoto (Royal Golden Eagle) USD 2,4 miliar, Putera Sampoerna (Sampoerna Strategic) USD 2,3 miliar, Aburizal Bakrie (Bakrie Grup) USD 2,2 miliar, dan Peter Sondakh (Rajawali Group) dengan nilai kekayaan USD 2,2 miliar.

Pekerja Keras
Lukminto dan Djoenaedi memang dua taipan Solo yang dikenal sebagai pekerja keras dan pantang menyerah. Lukminto yang kini dikenal sebagai raja tekstil di Asia Tenggara itu, memulai usahanya dari bawah yakni dengan berdagang tekstil di dua kios kecil di Pasar Klewer Solo pada tahun 1966. Lukminto mulai mengembangkan industri tekstil pada tahun 1972 dengan mendirikan pabrik pertamanya di Semanggi Solo.

Sementara Djoenaedi yang kini dikenal sebagai raja farmasi di Asia Tenggara  memulai usahanya dengan berjualan jamu keliling dari pasar ke pasar di kawasan Karesidenan Surakarta, Madiun, Ngawi, dan Pacitan pada tahun 1950-an. Djoenaedi baru mendirikan pabrik obat dengan nama PT Kondang Impor Expor (Konimex) pada tahun 1967.

Dua taipan yang sangat ketat dalam menegakkan kedisiplinan ini, bukan saja tampil sebagai dua warga Solo dalam daftar orang-orang terkaya di negeri ini, tetapi mereka juga berhasil membangun perusahaan berkelas dunia dari sebuah desa. Sritex bermarkas di Desa Jetis Sukoharjo dan Konimex bermarkas di Desa Cemani Sukoharjo.

Prestasi  Sritex dan Konimex di pasar dunia sudah diakui para pelaku bisnis di dunia. Sritex, misalnya, telah mencatat prestasi gemilang dengan meraih kepercayaan dari 27 negara di dunia untuk memproduksi seragam militer. Ini merupakan satu-satunya pabrik tekstil di dunia yang mendapat kepercayaan dari 27 negara dalam waktu yang hampir bersamaan untuk memproduksi pakaian militer, termasuk NATO, Jerman dan Inggris.

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses